Minggu, 05 Januari 2020

MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK BUDAYA

Istilah  kebudayaan  memang  tak  asing  bagi  kita  khususnya  yang berkecimpung  di  dunia  ini,  apakah  itu  sebagai  agamawan,  budayawan,seniman, penikmat budaya,  pelaku budaya dan seni,  dan lainnya.   Namun kita juga sering bertanya apakah setiap  agama, masyarakat, ras, dan etnik, memiliki persepsi  sendiri  tentang kebudayaan.    Apakah  terdapat  persepsi yang sifatnya umum atau  khusus dalam  memandang budaya?  Begitu juga halnya  dengan  agama  Islam.    Bagaimaan  konsep  kebudayaan  dalam
pandangan Islam? Secara saintifik, kebudayaan dibahas secara luas dan mendalam dalam sains  antropologi  ataupun  sosiologi.    Seperti  yang  diuraikan  di  dalam antropologi, banyak para pakar kebudayaan mendefinisikan kata kebudayaan Muhammad Takari atau dalam adanan Inggrisnya culture.  Sampai tahun 1950 paling tidak ada 179  definisi  kebudayaan  yang  dikemukakan  oleh  para  ahli.    Namun kemudian, dari berbagai definisi itu didapati berbagai kesamaan, paling tidak kebudayaan  memiliki  dua  dimensi  yaitu  isi  dan  wujud.    Seperti  yandikemukakan oleh Koentjaraningrat (1980) yang mengutip pendapat Claude Kluckhohn,  bahwa  kebudayaan  adalah  sebagai  seluruh  ide,  gagasan,  dan tindakan manusia dalam angka memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, yang diperoleh  melalui  proses  belajar  mengajar  (learned  action).    Kemudian ditinjau secara umum, budaya terdiri dari dua dimensi, yaitu wujud dan isi. Dalam dimensi wujud, budaya terdiri dari tiga unsur, yaitu: (1) wujud dalam bentuk ide atau gagasan, (2) wujud dalam bentuk aktivitas atau kegiatan, dan (3) wujud dalam bentuk benda-benda atau artifak.  Ditinjau dari dimensi isi, atau  sering  disebut  tujuh  unsur  kebudayaan  universal,  maka  kebudayaan terdiri dari tujuh unsur yaitu: (1) sistem religi, (2 bahasa, (3) teknologi dan peralatan hidup, (4) sistem mata pencaharian, (5) sistem organisasi sosial, (6) pendidikan, dan (7) kesenian. Dalam kajian budaya, sering pula dikenal istilah peradaban (sivilisasi), yaitu unsur-unsur kebudayaan yang maju, halus, dan tinggi (lihat Webster’s 1960 dan L.H. Morgan 1877).  Kata ini, biasa merujuk kepada peradaban- peradaban  seperti:  Sumeria,  Assiria,  Indus,  Babilonia,  Inca,  Oriental, Oksidental,  dan  lain-lain.   Istilah  peradaban  itu sendiri  merupakan unsur serapan bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Arab yaitu dari akar kata adab.   Umumnya  pengertian  budaya menurut  para  ilmuwan  Barat  seperti yang dikemukakan dalam antropologi dan sosiologi, adalah bahwa  agama atau sistem religi sebagai bagian dari unsur kebudayaan yang sejajar dengan unsur  budaya lain.    Dalam  Islam,  agama memiliki  dimensi  Ilahiyah atau wahyu,  dalam  dimensi  sedemikian  rupa  tidak  termasuk  dalam  budaya, bahkan  budaya  wajib  berasas  kepada  wahyu.    Sebaliknya,  kreativitas manusia dalam rangka mengisi budaya dapat dikategorikan sebagai budaya.

Istilah Padanan Budaya dalam Islam
Dalam  Islam,  jika  dibicarakan  istilah  kebudayaan,  biasanya  selalu merujuk kepada  kandungan  makna pada kata-kata atau istilah ang  sejenis, seperti: millah, ummah, tahaqafah, tamaddun, hadharah, dan adab.  Istilah ini dipakai dalam seluruh kurun waktu sepanjang sejarah Islam.

Millah
Terminologi  millah  ( ),  yang  bentuk  jamaknya  milal  ( ), terdapat  dalam  Al-Quran,  yang  digunakan  untuk  merujuk  keadaan kebudayaan yang  berhubungan dengan  syariat Nabi Ibrahim Alaihissalam. Millah artinya adalah agama, syariat, hukum, dan cara  beribadah.  Millah seperti yang disebutkan di dalam Al-Quran, maknanya ditujukan umat Islam, Konsep Kebudayaan dalam Islam atau  golongan  manusia  yang  suci,  yang  berpegang  teguh  kepada  agama Allah,  serta  mengamalkan sistem syariat,  serta  meraka yang  menjalankan tugas-tugas rohaniah dalam hidup dan peradabannya. Dalam konteks sejarah, Nabi Ibrahim Alaihissalam adalah peletak dasar agama monoteisme yang hanya  menyembah kepada Tuhan yang Ahad.   Ia menyatakan  dengan  tegas  bahwa  adalah  perbuatan  salah  bila  manusia menyembah sesuatu selain Allah, misalnya patung.  Maka ia pun dihukum dengan cara dibakar api oleh penguasa negeri saat itu.  Namun dengan kuasa Allah akhirnya ia tidak terbakar.  Nabi Ibrahim melakukan penyucian akidah umat  melalui ajaran-ajaran  Allah.   Ia  termasuk  salah seorang Rasul  yang Ulul Azmi (lima dari dua puluh lima Rasul yang memiliki “keistimewaan”).

Ummah
Selain itu, ada sebuah  istilah lagi yang lazim digunakan  dalam Islam, dalam  kaitannya  dengan  kebudayaan,  yaitu  ummah  (           ).    Istilah  inimengandung makna sebagai orang-orang muslim dalam bentuk masyarakatkolektif.  Istilah ini yang pluralnya adalah umam dipergunakan dalam  Al-Quran  untuk  menyebut  umat  Islam,  sebagai  umat  terbaik  (Q.S.  AliImran:110).    Pengertian  di  dalamnya  ialah  bahwa  umat  Islam  itu  ialah golongan manusia yang suci,  mukaddas, bukan sekuler atau  profan, tanpa tujuan-tujuan—memiliki  sifat-sifat  pelaksana  ajaran  dan  syariat  Tuhan. Umat umumnya memiliki sifat ma’mum, yaitu terpimpin.  Pimpinan disebut imam.    Alam  sejarah  Islam,  pemimpin  tertinggi  ialah  Rasulullah  S.A.W. Dalam menjalani kehidupannya, umat itu wajib melaksanakan syariat, yaitu asas  agama  untuk  mengarahkan  kehidupan yang  ditentukan dalam  tanzil, wahyu yang  diturunkan, bukan  berdasaran semata-mata  kepada pemikiran sendiri. Hidup mereka meniru Rasulullah S.A.W.  Umat Islam wajib menjadi contoh kepada  segenap umat  manusia  di dunia.   Dengan  demikian,  umat Islam berarti kumpulan manusia yang mendasarkan hidupnya kepada syariat Ilahi,  dengan  pimpinan  suci,  dan  membentuk  kumpulan  manusia  yang berkedudukan suci, bukan mengutamakan aspek keduniawian, serta  berada dalam dimensi transenden. Perkataan ummah diambil dari bahasa Arab umm yang artinya ibu.  Di dalam  Al-Quran  terdapat  64  kali  perkataan  ummah,  13  di  antaranya menggunakan kata jamak umam.  Jika dilihat dari penggunaan kata ummah di dalam Al-Quran, maka kata ini memiliki beberapa pengertian.  Misalnya dalam  Al-Quran  (13:30)  dinyatakan  “diutuskan  nabi-nabi  kepada  umat mereka  pada  setiap  zaman.”    Dalam  Al-Quran  juga  dijelaskan  bahwa ummah memiliki pengertian kepercayaan sebuah kumpulan manusia, seperti termaktub dalam surah Az-Zukhruf (22-23), “sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak  kami  menganut  suatu  agama  (ummatin)  dan  kami  adalah pengikut  jejak-jejak  mereka.”      Perkataan  ummah  juga  diartikan  sebagai sebuah masyarakat yang bertanggung jawab  terhadap keutuhan kelompok-Muhammad Takarinya, yaitu menjalankan hak  dan  memperjuangkan keadilan  (Quran 7:159). Sebagai contoh Nabi Ibrahim dianggap sebagai seorang umat yang beriman kepada  Allah  dan  menjalankan  tanggung  jawabnya  sebagai  rasul  kepada kaumnya.  Begitu juga dengan kaum Nabi Musa  yang mengikuti perintah Allah, melakukan kebaikan dan menjauhi kemungkaran. Sergeant (dalam Abdullah Al-Ahsan 1992:12) berpendapat bahwa kata ummah telah ada sebelum kelahiran Nabi Muhammad.  Namun penjelasan mengenai  ummah  di  dalam  Al-Quran,  adalah    membicarakan  tentang manusia  yang  datangnya  dari  satu  komunitas  (ummatan  wahdatan  Q.S. 10:19),  yang  berasal  dari  Adam  dan  Hawa  disertai  dengan  kisah-kisah tentang  umat  terdahulu  yang  tidak  mempraktikkan  bagaimana  kondisi ummah  yang  sebenarnya.   Setelah  Nabi Muhammad  diutus sebagai  Nabi akhir  zaman,  Rasulullah  mengenalkan  konsep  ummah  ini  berlandaskan ajaran Islam, hingga digunakan terus hingga sekarang. Dalam  ajaran  Islam  perpaduan  ummah  tidak  bermakna  bahwa masyarakat Islam melupakan kaum (etnik, suku, bangsa) mereka.  Selain itu, mereka  harus  menerima  kaum  dan  bangsa  lain  sebagai  saudara  mereka. Misalnya Nabi Muhammad tetap mengingat dirinya dari Bani Hasyim dan bersuku  Quraisy.    Selain  itu  Nabi  Muhammad  juga  selalu  mengingatkan kaumnya  yang telah  memeluk  Islam  untuk  menghormati dan  menyayangi keluarga mereka yang bukan Islam, serta menunjukkan akhlak mulia kepada mereka. Dalam konteks sejarah Islam, meskipun konsep ummah yang dikenalkan oleh Rasulullah pengertiannya  merujuk  kepada  umat  Islam,  namun beliau mengijinkan bangsa Yahudi dan lainnya tinggal di Madinah. Mereka dijamin keselamatannya  dan  diperbolehkan  mengamalkan  ajaran agamanya  selagi mereka tunduk kepada undang-undang Perlembagaan Negara Islam.  Kaum Yahudi  Medinah  ini  disebut  dengan  sebutan terhormat  ummah  ma’al al-muslimin (umat bersama orang Islam). Konsep ummah yang ingin dituju oleh Islam adalah sebuah kelompok masyarakat yang beriman kepada Allah, Rasul-rasul dan kitab-Nya bersatu di bawah  panji  Islam  menjadi komunitas  terbaik tanpa  menonjolkan  jenis bangsa, bahasa, ras, warna kulit, dan negeri.

Athtahaqafah
Kata  lain  yang  maknanya  merujuk  kepada  kebudayaan  dalam  Islam adalah  atahaqafah  ( ),  yang  biasanya  digabung  dengan  al-Islamiyah, artinya adalah keseluruhan cara hidup, berpikir, nilai-nilai, sikap,institusi,  serta  artifak  yang  membantu  manusia  dalam  hidup,  yang berkembang  dengan  berasaskan  kepada  syariat  Islam  dan  sunnah  Nabi Muhammad. Dalam  bahasa  Arab,  atahaqafah  artinya  adalah  pikiran  atau  akal seseorang itu menjadi tajam, cerdas, atau mempunyai keahlian yang tinggi Konsep Kebudayaan dalam Islam dalam  bidang-bidang  tertentu.    Selanjutnya  isilah  taqafah  ( ) berarti  membetulkan sesuatu,  menjadi lebih  baik dari  pada keadaan  yang dulunya tidak begitu baik, ataupun menjadi berdisiplin.  Kata taqafah artinya adalah ketajaman, kecerdasan, kecerdan akal, dan keahlian yang tinggi, yang diperoleh  melalui  proses pendidikan.  Jadi istilah  ini,  menekankan  kepada manusia  untuk  selalu  menggunakan  fikirannya,  sebelum  bertindak  dan menghasilkan kebudayaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar