Minggu, 05 Januari 2020

HUBUNGAN HORIZONTAL MANUSIA ALAM


Hubungan horizontal manusia dan alam bisa disebut hablum minannas. Hablum minannas adalah hubungan baik sesama manusia. Adanya hubungan ini adalah konsekuensi tak terhindarkan dari interaksi dengan sesama manusia karena kita membutuhkan bantuannya. Seorang muslim tidaklah cukup membangun hubungan baik dengan Allah tetapi harus pula membangun hubungan baik dengan sesama manusia
.
Hablumminannas ialah amalan-amalan lahir kita yang termasuk dalam bidang-bidang muamalat (kerja-kerja yang ada hubungannya dengan masyarakat), munakahat (persoalan kekeluargaan) dan jinayah serta tarbiyah Islamiyah, soal-soal siasah, fisabilillah, jihad dan persoalan alam beserta isinya.
Hubungan sesama manusia dalam Islam adalah hubungan sebagai saudara sebagaimana firman Allah surat al Hujurot ayat 10
"orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat."
Dari ayat menjelaskan bahwa kita sebagai manusia harus menjaga tali shilaturahmi sesama manusia Allah memberikan resep-resep agar hubungan dengan sesama manusia dapat terjalin dengan harmonis. Tujuh resep tersebut terdapat dalam Al-Qur'an surat Al-Hujarat ayat 6 – 12 :

1.budayakan tabayun. Tabayun adalah mengecek kebenaran suatu berita  yang sampai ke telinga kita
2.budaya ishlah. Ishlah adalah meluruskan yang tidak lurus, mendamaikan yang tidak damai, merukunkan yang tidak rukun, termasuk meluruskan informasi yang salah.
3.hindarkan taskhirriyah, meremehkan atau memperolo-olokan orang lain.
4.jangan menghina orang lain,
5.menjauhkan sikap su-udhon atau buruk sangka.
6.jangan suka mencari kesalahan orang lain.
7.jangan suka menggunjing orang lain atau ghibah.

Silaturrahmi tersusun dari dua kosa kata Arab; shilah yang berarti menyambung danrahim yang berarti rahim wanita, dan dipakai bahasa kiasan untuk makna hubungan kerabat. Jadi silaturrahim bermakna: menyambung hubungan dengan kerabat. Dari keterangan ini, bisa disimpulkan bahwa secara bahasa Arab dan istilah syar’i, penggunaan kata silaturrahim untuk makna sembarang pertemuan atau kunjungan dengan orang-orang yang tidak memiliki hubungan kerabat, sebenarnya kurang pas. 

Silaturrahmi tersusun dari dua kosa kata Arab; shilah yang berarti menyambung danrahim yang berarti rahim wanita, dan dipakai bahasa kiasan untuk makna hubungan kerabat. Jadi silaturrahim bermakna: menyambung hubungan dengan kerabat. Dari keterangan ini, bisa disimpulkan bahwa secara bahasa Arab dan istilah syar’i, penggunaan kata silaturrahim untuk makna sembarang pertemuan atau kunjungan dengan orang-orang yang tidak memiliki hubungan kerabat, sebenarnya kurang pas.

  Berikut ada beberapa Firman Allah SWT dan Hadits Nabi yang menerangkan bersilaturahim Allah ta’ala memerintahkan berbuat baik pada kaum kerabat,


“وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالاً فَخُوراً”.

Artinya: “Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Serta berbuat baiklah kepada kedua orangtua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman, musafir dan hamba sahaya yang kalian miliki. Sungguh Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri”.(  QS. An-Nisa’: 36. )

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menerangkan bahwa silaturrahim merupakan pertanda keimanan seorang hamba kepada Allah dan hari akhir,
“مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ؛ فَلْيَصِلْ رَحِمَه”

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir; hendaklah ia bersilaturrahim”.( HR. Bukhari dari Abu Hurairah. )

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam  juga menjanjikan bahwa di antara buah dari silaturrahim adalah keluasan rizki dan umur yang panjang,
“مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ؛ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ”.

“Barang siapa menginginkan untuk diluaskan rizkinya serta diundur ajalnya; hendaklah ia bersilaturrahim”.( HR. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik. )



.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar